Blog Openulis

Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.

Novel Remaja Ungkapan Dalam Qalbu

Novel: UDQ #29 Ujian Perasaan

Mereka perlu tahu

Maaf kalau aku membuatmu mencintaiku

segeralah lupakan rasa itu kalau aku hanya akan menyakitimu

Aku memastikan isi tasku bahwa tak ada satu pun perlengkapan ujian yang tertinggal. Ini hari pertama ujian, hari pertama penentu kelayakan untuk lulus dari sekolah. Jika aku tidak lulus ujian, aku harus mengulangnya tahun depan. Tapi mungkin itu lebih baik, karena aku masih akan punya waktu setahun lagi sebelum meninggalkan sahabatku ke luar kota. Di sisi lain aku tak ingin mengecewakan ke dua orang tuaku. Aku harus sebaik mungkin lulus dalam ujian ini, ikut tes untuk masuk kuliah dan kuliah sesuai kehendak orang tuaku.

“Kayaknya berat banget kalau harus ninggalin kota ini.” Lepasku saat sarapan.

“Maksudnya orang-orangnya?” Tanya Yogi. “Semua gak seberat yang kamu bayangin Ram. Bawa santai aja, jalanin dulu.”

“Kenapa gak kamu aja yang kuliah di sana?”

“Cewe-cewe di sini lebih kece Bro.” Tanggapnya sambil mengangkat piring kami yang sudah kosong. “Aku belum ngegebet Raia.” Tambahnya..

“Siap-siap aja patah hati lagi.”

“Kalau gak mau, jangan dipaksa. Orang tua kita tuh fleksibel, pengertian. Mereka gak mungkin maksa kita ngejalanin sesuatu yang gak bikin kita enjoy.” Ucap kakakku yang lagi mencuci piring

Mungkin kakakku bisa menolak kemauan orang tuaku untuk melanjutkan pendidikan sesuai harapan mereka. Tapi karena itu aku tidak bisa menolak keinginan mereka, tak ingin kedua orang tuaku kecewa dua kali. Andai aku punya alasan untuk bertahan.

“Rama.” Panggil Erka dari luar rumah.

“Udah disamper tuh. Semangat ya Ram, salam buat sobat-sobat kamu. Terutama Arly.” Pesan Yogi.

Erka menantiku dengan senyum sumringah di ambang pagar rumah. Aku akan akan merindukan ini kelak.


Siswa-siswi lain langsung berhamburan ke ruang ujian masing-masing setelah upacara pembukaan ujian. Di perjalan menuju kelas Seshi menggenggam tanganku erat dan terasa sekali gadis ini amat tegang, tangannya mendengin. Aku menatap Seshi, meyakinkannya bahwa dia pasti bisa menjalani ujian ini.

“Terima kasih Ar.” Ujarnya tersenyum. “Aku beruntung banget punya sahabat kayak kamu. Kamu bisa buat aku percaya diri.”

Sejujurnya aku juga tegang tapi jika aku tunjukkan di depan Seshi, bisa jadi dia malah panik. Ini bukan sekedar ujian, di sinilah kejujuran dipertaruhkan. Aku percaya aku dan sahabatku mampu melalui ujian ini dengan tetap jujur. Kami melepaskan genggaman dan berpisah memasuki ruang ujian yang berbeda.

Di ruang ujianku beberapa orang masih sibuk berdiskusi sampai pengawas datang dan meminta peserta ujian untuk tenang.

“Berlakulah jujur, jujur pada diri kalian sendiri. Karena semua akan berdampak untuk diri kalian sendiri.” Pesan sang pengawas setelah membagikan kertas lembar jawaban.


Pekan ujian masih berlangsung begitupun gejolak di hatiku. Bukan hanya ujian sekolah yang ingin aku selesaikan tapi juga misteri perasaan antara Erka dan Arly. Aku tidak ingin membawa kekacauan hati ini saat pergi dan menjadi berlarut-larut sampai aku kembali. Namun tak satupun dari mereka yang ingin mengungkap perasaan itu.

Aku tak sengaja memergoki Erka melewati ruang ujian Arly. Bukan untuk pertama kalinya melainkan sudah kesekian kali diam-diam Erka melintas di sana dan menengok ke arah Arly. Bukan ada keperluan maupun sekedar kebetulan tapi aku tahu itu keinginannya seperti aku juga yang sekedar ingin melihat Arly.

“Erka..” lantangku memanggil. Erka menoleh dan menunggu kedatanganku. “Kamu ngapain di sini?” tanyaku.

“Kamu?” tanya Erka balik dengan wajah agak panik.

“Aku mau lihat Arly.” Jawabku seadanya. “Apa kamu juga mau lihat dia?” maaf sahabatku jika pertanyaan itu menjebakmu.

“Hai.” Tiba-tiba tokoh yang sedang dibahas muncul. “Kalian di sini? Ada apa?” tanya Arly.

“Emp.. aku sih mau lihat kamu.. tapi kalau Erka aku gak tahu.” Jawabku pada Arly.

Arly tersenyum mendengar jawabanku. Kemudian matanya berpindah ke wajah Erka, menunggu jawaban.

“E.. aku balik ke ruanganku dulu ya, mau belajar lagi.”

Erka menepuk pundakku dan langsung pergi tanpa menjawab Arly. Kekecewaan nampak jelas di mata Arly dan semua lebih jelas bagiku. Arly, apa gadis ini juga akan kecewa jika aku bersikap dingin padanya atau jika aku yang meninggalkannya.

“Aku merasa dia sering bersikap dingin ke aku.” Ungkap Arly yang masih menatap kepergian Erka.

“Dan dia juga mungkin merasa hal yang sama. Kamu sering bersikap dingin ke dia.”

Bel tanda masuk berdentang, wajah Arly cemberut, entah karena jawabanku atau karena mendengar bel.


Ruang ujian tidak setenang yang aku harapkan, teman-teman di sekitarku sedang bertukar jawaban. Padahal ini mata pelajaran ujian terakhir. Mungkin banyak anggapan aku tidak seasik yang lain. Dimana kebanyakan mereka saling mencontek. Tapi inilah aku yang tak pernah lupa pesan ayah kalau kita harus berlaku jujur dimanapun.

“Ekhm…” sang pengawas derdehem, mungkin karena merasa para peserta mulai ribut kini beliau bangkit dari kursinya dan mengelilingi kami. Memeriksa lembar jawaban satu persatu hingga sampai kemejaku. “Kamu sudah selesai?” Tanya beliau sambil melihat lembar jawabanku yang sudah terisi semua. “Kamu boleh meninggalkan ruangan.” Ujarnya sambil meletakkan kembali lembar jawabanku.

Aku mengangguk dan merapikan perlengkapan ujianku kemudian melangkah keluar ruangan. Suasana masih sepi dan ketika aku menoleh kearah kanan, aku menemukan Erka berdiri di simpang lorong. Aku tersenyum padanya tapi tiba-tiba Erka berbalik arah berpaling dariku. Lho tapi kenapa? Padahal dia tadi liat aku. Jarak kita gak lebih dari 10 meter, kenapa dia malah berbalik? Aneh. Melihat sikap Erka seperti itu membuat aku jadi jengkel sendiri. Kenapa sih dia?

“Arly.” Panggil seseorang. Aku menoleh ke arah Tiara teman sekelasku dulu di kelas XI baru keluar dari ruangan yang berbeda denganku. “Kamu udah selesai?” Tanyanya.

“Udah, makanya aku keluar.” Jawabku dengan senyum.

“Aku juga udah, tapi sebel deh, contekannya banyak yang gak tepat. Untung aku belajar juga. Jadi gak asal-asalan deh jawabnya.”

Aku cuma mengangguk-anggukkan kepala menanggapinya. Tak lama aku mendengar suara sepatu berdecit dengan lantai berarah cepat ke arahku. Seshi rupanya mendatangiku dengan wajah berseri.

“Arly…” Seshi langsung menubrukku dengan pelukan. “Senangnya bisa nyelesain ujian dengan jujur.” Katanya masih memelukku. Tiara mengerutkan keningnya melihat kami. “Aku rasa lega banget.” Ujar Seshi setelah melepas pelukannya.

“Kalian emang gak pake contekan?” tanya Tiara diiringi suara bel pertanda waktu ujian selesai.

“Ya Enggaklah, kita kan percaya diri.” Jawab Seshi sedikit berbangga hati. Aku hanya tersenyum. “Kita ke Bumi yuk.” Ajak Seshi padaku.

“Hai..” di tengah perjalanan Rama menghadang kami kemudian membuntut keruangan Bumi.

Di ruangannya Bumi tengah duduk berhadapan dengan Erka. Rama langsung menyapa keduanya dan kami pun membaur melepas rasa beban kecuali Erka yang aku rasa agak mendiam, bahkan tak lama ia pamit dari kami tanpa melihat ke arahku. Sejak tadi dia seperti itu, bukan. Sejak kemarin ia mendingin kepadaku, bersikap seolah tak menyadari keberadaanku. Ada apa dengannya?

Berselang tak lama aku pamit sejenak pada yang lain untuk mengambil tasku di ruangan. Seshi dan Rama pun sama, kami berpencar sejenak. Aku masih penasaran dengan sikap Erka. Maka sebelum ke ruanganku, aku sengaja melewati ruangan Erka. Ternyata dia masih ruangannya duduk terdiam seakan merenungi sesuatu.

“Erka..” panggilku dari jendela. Erka menoleh kearahku sejenak kemudian memalingkan wajahnya. Benar-benar aneh sikapnya. Aku memasuki ruangannya dan Erka malah memegang buku pelajaran yang tadi di ujikan. Ia seakan tak mau peduli ke hadiranku dan membaca buku yang ada di tangannya. Kenapa dia malah membaca buku padahal ujiannya sudah selesai.

“Erka, ada apa sih? Kamu kok aneh banget ke aku?”

Erka tak memberi tanggapan selain membalik lembar buku, dan aku merasa terabaikan. Aku melangkah mundur berniat meninggalkannya, namun aku berbalik lagi padanya.

“Aku membencimu.” Kataku dengan penuh amarah.

Erka terdiam sambil merapikan bukunya ke dalam tas.

“Bencilah aku, jika dengan itu kamu akan selalu mengingatku.” Katanya membuka suara.

Aku mentapnya geram, sesungguhnya dalam hati ini tengah menangis.

“Maaf kalau aku membuatmu mencintaiku, segeralah lupakan rasa itu kalau aku hanya akan menyakitimu.” Ujarnya di telingaku sebelum ia meninggalkan ruangan.

Seharusnya aku tahu itu dari dulu. Aku mencintainya dan kini hatiku terluka. Ya, aku baru menyadarinya sekarang, ada sekat diantara kita. Dan itu perasaanku. Aku mencintainya.


Aku meninggalkan ruanganku sambil membawa tas dan berlari ke ruangan Erka sambil berharap ia belum pulang dan masih di sana.

“Aku membencimu.”

Aku mendengar suara Arly sebelum memasuki ruangan Erka. Aku mengintip sedikit dari balik pintu, melihat Erka sedang merapikan bukunya ke dalam tas. Suasana terasa cukup tegang.

“Bencilah aku, jika dengan itu kamu akan selalu mengingatku.” Tanggap Erka. “Maaf jika aku membuatmu mencintaiku, segeralah lupakan rasa itu jika aku hanya akan menyakitimu.” Ujarnya sebelum keluar ruangannya.

Aku masih sembunyi tak menampakkan diri. Erka meninggalkan Arly sendiri, tak lama gadis itu juga keluar ruangan. Entah mungkin Arly terlarut dalam perkataan Erka hingga ia tak menyadari keberadaanku dan lewat begitu saja. Aku mengekor di belakang Arly dan gadis itu tak sedikitpun merasa dibuntuti.

Haruskah aku memanggilnya agar menyadari keberadaanku dan luapkan semuanya padaku atau aku biarkan saja begitu. Sepertinya ia sedang tidak butuh siapapun.

“Arly…” Seshi berlari ke arah kami, ke arah Arly tepatnya. Gadis yang membawakan tas Arly itu tertegun sejenak kemudian merangkul sahabatnya. “Ada apa?” tanyanya agak bingung.

Arly hanya menjawab dengan gelengan kepala dan mengambil tasnya dari tangan Seshi. Aku juga menggelengkan kepala saat Seshi menatapku penuh pertanyaan.

“Aku pulang duluanya. Aku gak enak badan.” Pamit Arly.

“Aku antar ya?” tawar Seshi.

Arly menggeleng lagi dan langsung melangkah. Aku meraih pundak Seshi yang ingin tetap mendampingi sahabatnya. Seshi akhirnya terdiam dan melepas Arly meski kuatir.


Klik Selengkapnya: Ungkapan Dalam Qalbu Novel Anak SMA

Baca juga:

Makna Fitnah dan Ujian

Mereka perlu tahu
Asih Sora
Asih Sora

Kenangan adalah makna dalam setiap kisah.

Articles: 42

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *