![]()
Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.
![]()
Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.

Ada secuil kisah menarik sepanjang sejarah konflik antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Yakni munculnya kasus khuntsa alias manusia dengan dua kelamin di Syam yang saat itu berada di bawah kekuasaan Muawiyah.
Dalam dunia Islam, tentunya ini adalah masalah, karena di sana ada hak waris, perwalian, dan siapa yang berkewajiban mencari nafkah dll.
Maka Muawiyah mengirim utusan untuk bertanya kepada Ali -radhiallahu anhuma- tentang kasus tersebut. Ali pun membalas dengan jawaban yang lugas, “Tentukan jenis kelaminnya dari mana kencingnya keluar”.
Setelah itu, Ali memuji Allah seraya berkata,
الحمد لله الذي جعل عدوَّنا يفزع إلينا في أمر دينه
“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan orang yang berseberangan dengan kami merujuk pada kami dalam urusan agamanya”. (Nihayah al-Mathlab fii Dirayah al-Madzhab)
Lihatlah bagaimana khalifah Ali begitu ikhlas menjawab tanpa menutupi ilmu dari pihak yang lawan.
Sebab ilmu Allah adalah amanah.
Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ
“Siapa yang ditanya tentang ilmu namun ia sembunyikan, di hari kiamat kelak ia dikekang dengan api neraka.” (Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Baihaqi dan Al-Hakim).
Islam mengajarkan bahwa ilmu harus diajarkan kepada siapapun yang membutuhkan, walau yang membutuhkan itu menyakiti kita.
Di pihak lain, Muawiyah bin Abi Sufyan bisa dianggap dewasa karena rendah hati.
Walaupun sayyidina Muawiyah punya masalah dengan sang khalifah, tetapi beliau tidak sungkan mengakui keilmuan beserta otoritas seterunya. Sehingga tidak ada gengsi yang merintangi untuk meminta fatwa dan merendahkan diri sebagai murid di hadapan suami Fatimah.
Inilah sikap tawadhu, rendah hati, lawan kata al-kibr. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الكِبرُ بَطَرُ الحَقِّ، وغَمطُ النَّاسِ
Kibr itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia. (Muslim)
Muawiyah mau mencari kebenaran, bertanya meskipun kepada lawan, dan menerimanya.
Bukankah ini indah?
Ketika semua orang bisa menempatkan diri di posisi masing-masing yang sudah nyata.
Ketika masalah dihadapi secara dewasa, semua atas dasar agama, lillah.
Ketika konflik akan selalu ada, tapi yang kita hadapi adalah manusia bukan iblis.
Bahkan dalam badai politik sekalipun, para sahabat Nabi masih memberikan teladan ukhuwah islamiyah.