![]()
Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.
![]()
Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.

Dalam dunia karya manapun, judul menjadi salah satu hal pertama yang dilirik orang. Entah itu judul film, lagu, lukisan, maupun tulisan offline dan online. Judul adalah daya tarik tersendiri bagi pembaca. Kuat atau lemahnya judul, dan subjudul dapat mempengaruhi kesuksesan suatu karya tulis.
Tidak hanya dipandang oleh orang awam, bahkan dalam lomba dunia menulis, Juri-juri pun mementingkan judul. Karena mereka tidak mungkin sempat membaca semua karya peserta. Jadi, judulnya saja dulu yang dilihat. Jika tidak menggoda, besar kemungkinan isinya tidak akan dibaca.
Contoh lain ialah penulisan skripsi. Setelah mencari masalah (yang ingin digarap), kita akan diminta mengajukan judul. Jika judulnya bagus ada harapan akan diterima. Jika kurang benar, minimal disuruh revisi bahkan ditolak. Untuk itu, ada baberapa kiat yang dapat digunakan untuk membentuk judul yang menarik. Share you!
Penempatan angka pada judul akan menambah kesan bahwa tulisan Anda spesifik, rinci dan lengkap. Perhatikan contoh berikut:
Judul No. 2 lebih baik dan menarik karena memiliki beberapa efek positif seperti; informatif sesuai hadits Rasulullah ﷺ, mempermudah pencarian karena angka tersebut erat kaitannya dengan konteks.
Tanamkan dalam judul Anda, satuan bahasa (kata/leksem) seperti: luar biasa, wajib, dahsyat, sukses, keren, mantap, rahasia dll. Penambahan ini akan menjadikan pembaca makin penasaran dengan isi karya Anda. Mereka akan terhipnotis oleh hal itu.
Misalnya judul postingan berikut, “Luar Biasa! Pohon Pisan Berjantung 7, Petani Harus Tahu“. Perhatiakan dengan jelas dan bandingkan dengan “Ada Pohon Pisang Berjantung 7”. Manakah yang lebih menarik? Tentu yang pertama.
Kesan menarik yang ada pada judul pertama akan menimbulkan pengaruh. Anda menulis “rahasia”, pembaca akan menganggap tulisan Anda bebar-benar rahasia.
Tapi menurut saya pribadi, judul ini kurang baik. Selain itu, sebagian judul seperti ini dimanfaatkan oleh oknum media online yang ingin meningkatkan pengunjung blog.
Bukan rahasia lagi, pertanyaan adalah salah satu bentuk kalimat yang dapat dijadikan variasi suatu karya. Bahkan dalam lagu dan syair seolah jadi hiasan tersendiri seperti,
“Katakan saja padaku,
apakah engkau mau?
Tunjukkan jalan ke hatimu.”
Menyusun pertanyaan sangatlah mudah, hanya memerlukan 6W 1H (what, which, when, where, who, why dan how) ditambah tanda tanya (?). Saya kira sudah cukup jelas mengenai ini, tinggal tambahkan kelengkapannya saja. Contoh, “Apakah Perbedaan Kata dan Leksem?”, “Bagaimana Menarik Hati Anak-anak?”.
Waspada!
Dalam bahasa Inggris, kata “How” dapat diterjemahkan dengan 2 cara. How dapat dipadankan dengan “cara” dan “bagaimana”.
Pada beberapa hal saya kurang setuju terhadap provokasi, karena memicu intrik. Namun, untuk judul dapat sedikit dimaklumi selama masih berkaitan dengan isi dan tidak merusak. Judul yang provokatif hakikatnya mengundang rasa ingin tahu dan mengundang penasaran, hingga dapat memicu emosi seperti, marah.
Judul seperti inilah yang mendorong orang untuk melampiaskan penasaran mereka, kemudian membeli buku kita atau mengklik link blog. Beginilah cara judul provokatif bekerja untuk menggerakkan hati pembaca.
Hindari:
Judul ibarat nama suatu karya sekaligus menjadi identitas penulis atau pembuatnya. Judul yang bagus, enak dibaca dan didengar menumbuhkan kesan menarik. Tetapi, tidak akan demikian jika judulnya saja sudah membocorkan.
Perhatikan contoh-contoh judul bocor berikut:
Judul-judul tersebut pernah digunakan orang lain dengan kata dan susunannya yang hampir serupa. Jangan khawatir. Masalah di atas dapat ditangani dengan mempertahankan orisinalitas isi, misalkan judul Nabi Pertama. Tetapi bercerita dengan mengungkap kisah yang jarang diketahui orang pada umunya.
Contoh lain, judul Surat Terakhir. Kebayakan pembaca akan mengira ini surat cinta dan pasti ada yang meninggal, maka buatlah yang tidak umum! Ternyata, surat itu adalah warisan tanah yang menjadikannya kaya raya, misalnya.
Banyak sekali pemula dalam ranah seni dan tulis-menulis yang mengalami gejala ini. Biasanya, mereka hanya menyediakan 1 judul saja yang mencerminkan isi karyanya. Untuk itu, selayaknya kita menyiapkan bayak judul sebagai cadangan dan didiskusikan.
Ada 2 penafsiran disini. Pertama, Sisipkan sisi kehidupan penulis dalam judul agar lebih hidup. Misalkan, “Beginilah Cara Saya Menerjemahkan Literatur Islam” bisa juga menggunakan “Aku” agar lebih santai. Sama dengan itu, sisi pembaca juga boleh, misalkan “9 Hal Dari Palestina yang Akan Mebuat Anda Merasa Kagum”.
Kedua, lihatlah posisi kita, apakah penulis profesional ataukah amatir. Seniman yang ahli bisa saja menyusun judul sangat pendek bahkan satu tanda baca. Apa lagi Kita hanyalah pemula, maka berpayahlah dahulu. Masih banyak hal yang membedakan seorang berpengalaman dan pemula, karenanya mawas dirilah.
Allah –subhanahu wa ta’ala– memerintahkan kita untuk berhemat dalam segala hal, termasuk karya tulis. Satu titik menyita waktu, menguras tinta dan memakan kuota. Karenanya, kita diminta lebih perhatian terhadap setiap kata agar tidak sia-sia. Diantaranya dengan mencegah pemborosan pada kalimat dan judul.
Contoh:
Setelah Anda paham mengapa 4 judul di atas kurang tepat, lebih baik lihatlah contoh yang telah diperbaiki:
Ketika berbicara kaidah penulisan, kita juga membahas budaya suatu negara. Tidak hanya itu, bahkan hampir setiap lembaga dan instansi memiliki gaya penulisannya masing-masing. Itulah yang harus diperhatikan.
Sebagian tempat menggunakan kapital pada setiap huruf judul dan yang lain tidak. Setidaknya, jika berupa pertanyaan, gunakanlah tanda tanya. Manfaatkanlah tanda petik, kurung, titik dua dll.
Mungkin ini agak sulit, tapi kalau ada kesempatan mengapa tidak dicoba. Manfaatkan sebagian bahkan semua yang telah kita pelajari. Semoga judul kita mencapai manfaat yang maksimal.
Demikian artikel singkat ini, semoga bermanfaat khususnya untuk penulis sendiri. Mudah-mudahan Allah berkenan menambahkan ilmu kita. Share You!