Blog Openulis

Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.

Hidup Bahagia Menjaga lisan dalam Islam

7 Cara Hidup Bahagia Menurut Islam

Mereka perlu tahu

Hidup ini sulit, dan akan selalu begitu. Masalah datang silih berganti. Tapi semua tergantung dihadapi dengan bahagia atau keluh kesah. Inilah yang ingin kita baca sama-sama, bagaimana cara agar hidup bahagia menurut Islam.

1. Jangan lihat ke atas

Yang pertama kalau mau bahagia, tidak boleh melihat orang yang berada di atas kita, nikmatnya. Contoh: Anda hanya punya sepeda untuk transportasi sehari-hari. Anda tidak boleh memandang orang yang sudah punya motor dan mobil.

Kalau ada Lamborghini parkir depan sekolah, kita gak perlu tahu siapa yang keluar dari dalamnya.

Kalau ada tetangga punya Kawasaki Ninja, kita jangan kepo dari mana dia dapat. Kalau mau tanya harga boleh, dengan syarat;

  • ada keinginan untuk membelinya dalam waktu dekat, dan
  • sudah ada dananya.

Nabi Muhammad bersabda:

 انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Lihatlah orang yang ada di bawahmu dan jangan melihat orang yang ada di atasmu, sebab itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah. (Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Melihat orang yang di atas kita hanya akan membuat leher pegal, dengki, iri, kufur nikmat dan yang terburuk adalah menyalahkan takdir Allah

Solusinya, lihat ke bawah aja.

Kita cuma punya sepeda, orang lain gak punya kendaraan apa-apa. Orang lain, kakinya bermasalah sebelah. Orang lain gak bisa berjalan.

Bertemanlah dengan mereka. Engkau akan bersyukur karena punya kaki dan sepeda untuk digowes. Jangan terlalu sering bergaul dengan orang yang lebih kaya. Lagi pula, kebanyakan orang kaya adalah penghuni neraka.  😀

2. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain

Tips bahagia yang kedua, jangan samakan atau bedakan diri kita dengan siapapun. Biarkah segalanya berjalan natural. Kita bukanlah mereka, mereka bukan kita.

Perbedaan adalah Sunnatullah

Yang jadi masalah kan, kita suka membanding-bandingkan. “Dia makan nasi, sama kayak saya, tapi kok gantengnya beda?”

“Heran … dulu kita sekelas bareng, tapi kamu bisa punya jabatan lebih dulu.”

Orang tua juga sering melakukan dosa yang sama antar anak. Si ade ranking satu terus, kenapa si kakak selalu jeblok. Padahal yang bodoh adalah ayah-ibu mereka, tidak tahu bakat dan keahlian anak. Tanpa disadari, ortu adalah penyebab kesedihan anak.

Allah berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ

Janganlah kalian mengharapkan Karunia Allah yang terdapat pada orang lain. (An-Nisa: 32)

3. Jangan lihat masa lalu

Waktu adalah makhluk Allah yang paling cepat. Sedetik lalu dia pergi, tidak akan pernah lagi kita bertemu dengannya.

Menggunakan wahana apapun, kita tidak akan pernah mampu mengejarnya.

Karenanya, mengejar waktu yang telah berlalu adalah perbuatan sia-sia. Apalagi, mengejarnya ingatan nostalgia, kenangan dan perasaan. Percuma.

Inilah alasan kita dilarang menengok kebelakang.

Mengingat dulu kita pernah menolong fulan, sekarang dia mendzalimi kita. Hanya akan membuat kita menyesal telah berbuat baik. Akhirnya, muncul rasa tidak ikhlas, riya bahkan dendam.

Mengenang dulu betapa manisnya pacaran. Kok setelah nikah, gak enak kayak dulu. Hanya akan menjebak kita pada dosa dan melunturkan manisnya iman. Apalagi kalau pacarnya yang dulu, nikah sama orang lain.

Membayangkan enaknya dulu jadi anak orang kaya, dulu penghasilan bersih 10jt perhari. Hanya akan menghapus iman kepada takdir.

4. Jangan kaitkan kebahagiaan dengan orang lain

Ada fenomena menarik dikalangan pemuda saat patah hati, lamaran ditolak. Biasanya mereka menangis karena merasa, “saya tidak bisa hidup tanpa dirinya”. “tidak ada wanita lain sebaik dia.”

Siapa lah kita ini. Tidak bisa menolak cinta yang masuk ke dalam hati. Tapi gak begitu juga kali.

Inilah sikap mengkaitkan kebahagiaan dengan orang lain. Menganggap kalau bukan dengan doi, kita akan menderita. Justru kebiasaan menutup diri ini yang sebenarnya menghalangi datangnya kebahagiaan lain.

Padahal yang membuat kita bahagia adalah Allah, bukan siapapun.

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى

Allah lah yang menjadikan seseorang tertawa dan menangis, (An-Najm: 43)

Perasaan tidak ada orang lain lagi yang pantas bersanding bersama kita adalah akibat kurang piknik. Imam Syafii dalam syairnya berkata:

سافر تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ

Bersafarlah, kan kau temukan pengganti dia yang telah berpisah dengan mu.

5. Hidup sederhana

Ada quotes menarik yang sering saya baca di media sosial, “bahagia itu sederhana …”.

Ternyata ada benarnya juga.

Sederhana adalah istilah lain untuk bahagia. Bahagia adalah sederhana, sederhana adalah bahagia. Kalau mau bahagia harus sederhana.

Yang bikin hidup menderita, terhimpit dan tertekan sebenarnya bukan kebutuhan hidup tapi gaya hidup.

Udah bagus punya sofa peninggalan orang tua, pake diganti dengan model terbaru hanya karena udah gak zaman dan gak matching dengan design ruangan.

Kasus serupa sering terjadi pada aksesoris dan gadget. Kalau udah punya tas, gak usah beli baru selama gak butuh mendesak.

Punya smartphone gak usah ganti-ganti selama masih bisa untuk komunikasi. Jangan sampai karena gak kuat gaming, atau punya teman kameranya lebih bening, lantas maksa-maksa beli baru.

Ingat rumus fisika P = F?

Gaya sama dengan tekanan. Artinya, semakin banyak gaya semakin tertekan.

Dengan hidup sederhana, secara tidak langsung kita telah menyederhanakan masalah jadi lebih mudah.

6. Berbaik sangka pada Allah

Ada satu tips mujarab kalau mau hidup bahagia, berpikir positif bahwa kita berada dijalan yang benar karena Allah selalu memberikan kebaikan.

Misalnya kita terjebak macet. You tau lah, panas dan membosankan. Kalau kita berpikir macet itu menyita waktu, pasti yang ada hanya kesal.

Coba husnudzon, Allah memberikan kita kebaikan. Bisa jadi kita gak kena macet, tapi gak selamanya jalan lancar cepat mengantarkan kita ke rumah. Bisa jadi bablas ke rumah sakit.

Tidak selamanya lamaran ditolak itu buruk. Bisa jadi Allah sedang siapkan pengganti yang lebih baik secara fisik dan akhlak.

Dengan begini, semua yang kita hadapi akan terasa ringan karena bagaimanapun jalan ceritanya, akan selalu happy ending.

Bahkan jika harus mati pun, kita tetap dianjurkan husnudzon kepada Allah. Dalam beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud, Rasulullah bersabda:

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ

Janganlah seorang pun di antara kalian yang mati kecuali dalam keadaan berhusnudzon kepada Allah.

7. Qonaah

Kalau kita perhatikan, perasaan tidak bahagia bisa disebabkan 2 faktor. Pertama, eksternal. Contohnya; penyakit, kecelakaan, cinta ditolak dsb. Kedua, internal.

Pada dasarnya, faktor eksternal hanyalah pemicu. Terkadang, tidak ada faktor eksternal pun, internal bermasalah sendiri.

Faktor itu adalah hati. Dia qonaah atau tidak.

Sekalipun tidak punya isteri, tidak punya tangan dan kaki, tunanetra, tapi kalau hati qonaah, semua itu bukan masalah.

Qonaah adalah ridho terhadap segala yang telah Allah berikan.

Tanpa qonaah; paras menawan, jabatan terpandang dan hartawan tidak mampu menutupi galau dan gelisah.

Cukuplah hadits berikut menggambarkan betapa besarnya qonaah.

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا

Siapa diantara kalian yang banung di pagi hari dalam kondisi aman, tubuhnya sehat, dan memiliki makanan untuk hari tersebut. Maka seakan-akan dunia seluruhnya telah diberikan untuknya. (Al-Bukhari dan At-Thirmidz)

Seharusnya setiap orang yang hidup dalam keadaan tentram tanpa rasa takut dibom/dibunuh setiap saat sebagaimana di Palestina, sehat badannya dan memiliki persediaan untuk makan walau satu hari. Patutlah ia merasa dunia sudah diberikan untuk dirinya seorang.

Karenanya, tidak pantas orang di atas merasa sedih. Berbahagialah.

Keadaan kita masih jauh lebih baik dari orang lain. Buktinya, Anda bisa browsing dan baca artikel di blog ini. Orang lain, mau makan sehari sekali saja masih searcing di tumpukan sampah.

Akhirnya, kebahagiaan ini saya serahkan kepada Anda. Karena derita dan bahagia itu pilihan. Tapi sebelumnya, saya ingin sampaikan perkataan bijak Imam Syafii;

ولا تجزع لحادثة الليالي # فما لحوادث الدنيا بقاء

إذا ما كنت ذا قلب قنوع # فأنت ومالك الدنيا سواء

Jangan kau risaukan malapetaka # karena semua musibah hanya sementara.

Jika hatimu penuh qonaah # maka engkau dan raja sungguhan tidak ada bedanya.

Bacaan menarik:

Mereka perlu tahu

21 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

      • Subhanallah, mampir kesini karna minta pencerahan, habis kena racun kehidupan korea yang shibal biyong, kecenderungan menikmati hidup dan menghamburkan uang. Umurku 22 tapi nganggur dirumah dan nggak ngapa2in? maaf curhat

        • Alhamdulillah, semoga tambah berkah, tambah baik hidupnya mbak.

          90% film, apalagi sinetron dan drakor memang banyak menyajikan hedonisme; rumah megah, mobil mewah, tidak di istana, pakaian glamor, make up mahal anti luntur.

          Nonton itu semua, sedikit-banyak menghipnotis kita dan meracuni alam bawah sadar. Sebagian waktu kita untuk hal manfaat dan produktif jadi berkurang.

          Kita dibuat terpukau sampai diluar jam tayang. Tidak jarang, para remaja dan pemudi kita jadi merasa hidupnya Ngak Banget.

          Padahal, justru dunia yang inilah yang real. Harus dijalani.

          Kalau lagi nganggur, paling mudah gunakan untuk membaca ada nonton aja ceramah.

  1. Masya Allah. Nangis baca ini. Seketika diri ini tertampar sudah membanding-bandingkan kebehagiaan diri sendiri dengan orang lain 🙁

    Terima kasih untuk tulisannya 🙂

  2. Ini bagus tulisannya setelah saya galau luar biasa besok kerja dan marah marah ke suami karena udah males kerja baca ini artikel adem semoga kebaikan dan kesehatan selalu menyertai yang menulis artikel ini makasih ya