Blog Openulis

Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.

judul berita aktual terkini indonesia hoax sampah

6 Ciri Judul Berita Sampah Yang Harus Dihindari

Mereka perlu tahu

Hidup di zaman penuh fitnah ini sangatlah sulit. Satu sisi kita butuh berita yang komprehensif dan informasi yang aktual serta faktual. Tetapi di sisi lain banyak berita bohong, fitnah, pelintiran yang beredar.

Karenanya, setiap berita yang keluar-masuk dari pikiran dan lidah kita adalah informasi yang valid dan adil. Aturan ini, seharusnya dilaksanakan dalam kehidupan setiap muslim sebagaimana firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik1 membawa suatu berita, maka verifikasilah. Agar kamu tidak menimpakan musibah2 kepada suatu kaum karena salah paham, kemudian kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (al-Hujurat: 6)

Untuk itu, kita harus tahu kebenaran suatu berita dan selektif memilih informasi yang pantas di-share. Karenanya, halaman ini disajikan untuk mempermudah Anda ketika mengelola informasi, cukup dengan melihat judulnya.

1. Apakah judulnya lebay dan provokatif?

Bila jawabannya iya, segeralah ragukan. Judul berita yang benar biasanya datar dan adem. Misalnya:

“Presiden Jokowi: Arab Saudi setujui penambahan kuota haji.”

Kalau di media provokator akan berbunyi:

“Luar biasa! Presiden Jokowi berhasil menekan Arab Saudi untuk menambah kuota haji. Arab Saudi tak berkutik.”

Contoh lain:

“Ucapan keras Rais Syuriah PBNU bungkam Aa Gym dan Habib Rizieq.”

Frasa ‘ucapan keras’ serta ‘bungkam’ itu karangan si editor yang ingin beritanya mengundang perhatian, dengan cara tidak halal. Dapat dipastikan isi beritanya tak semenarik judul.

Judul yang semestinya:

“Rais Syuriah PBNU: NU tidak berposisi mendukung atau menghalangi nonmuslim jadi pemimpin.”

Dalam isi berita dan seluruh pernyataannya, Rois Syuriah sama sekali tak menyebut-sebut nama Aa Gym dan Habib Rizieq. Tapi si editor ingin beritanya tampak menggoda, maka ditempelkanlah nama Aa Gym dan Habib Rizieq, pake frasa ‘tamparan keras’ dan ‘bungkam’.

Ada juga pola pembuatan judul yang dimulai dengan ‘Inilah’ tambah subjek plus kata ‘dahsyat’:

“Inilah jawaban dahsyat Ahok kepada Tri Rismaharani”

“Inilah pernyataan dashyat Boss Facebook tentang Jokowi.”

Isinya cuma pernyataan biasa. Boro-boro dahsyat.
Katakanlah saya bertemu seorang kenalan di jalan, dan dia menyapa saya, “Hey! Apakabar?” Kemudian saya jawab: “Alhamdulilah. Saya baik-baik saja.”

Bila pertemuan dan dialog singkat ini diliput media sejenis di atas, mereka akan kasih judul:

“Inilah jawaban dahsyat Kafil Yamin yang membungkam seorang penanya”

Kalau media itu menyukai saya.

Ada lagi pola gaya pembuatan judul yang dimulai dengan ‘Menakjubkan!’, ‘Wow!’. ‘Mantap’, ‘Luar biasa!’, ‘Subhanallah’. Kalau berita negatif, kata serunya ‘Astaghfirullah!’, ‘Parah!’, ‘Astaga’, ‘Ngeri’, setelah dibaca, jangankan menakjubkan, justru membosankan dan garing.

Pembahasan serupa, juga pernah disinggung dalam artikel: Contoh Judul Karya Tulis Yang Baik dan Menarik.

2. Apakah judulnya masuk akal?

Kalau tidak, abaikan.

“Masyarakat NTT Siap Bumi Hanguskan FPI Sampai Habis Jika Berani Mengancam Nyawa Ahok”

 

Setidaknya judul serupa ini telah dimuat 4 website, 2 diantaranya adalah forum terkenal. Setelah dibaca, tidak ada pernyataan dari ormas, kelompok dan paguyuban apapun di NTT. Tidak ada persiapan fisik apa pun. Ternyata berita itu hanya mengutip sebuah status facebook seseorang.

Bukankah tidak masuk akal, ormas di Nusa Tenggara Timur bisa memusnahkan sebuah organisasi nasional. Lebih eneh lagi, ada orang di akun facebooknya mengatasnamakan provinsi dan organisasi masyarakat yang belum tentu mewakili keseluruhan.

3. Apakah dalam judul minta di-share?

Jika iya, abaikan saja berita itu. Contoh:

Wanita Itu Butuh Kepastian, Tinggalkan atau Halalkan. Yang Setuju Share ya..!!”

 

Dengan trik, penyunting ingin meraup share dan like sebanyak-banyaknya. Kalau sudah banyak yang berbagi tautan/link, pengunjung pun akan banyak juga karena penasaran. Lagi pula, wanita mana yang tidak setuju dengan pernyataan di atas?

Terkadang, yang membagikan pun tidak tahu isi beritanya ketika ditanya. Dengan kata lain, cuma latah ikut-ikutan. Judul artikel seperti ini, biasanya tidak punya keyword yang meyebabkan blognya tidak pernah muncul di pencarian Google, Yahoo dan Bing.

Saya sebenarnya tidak setuju dengan trik seperti ini. Karena terlihat sangat tidak professional, membodohi, abal-abal dan spam. Terkecuali untuk berita yang sangat mendesak seperti; butuh donor darah dsb, kecelakaan, bencana alam.

Jangan mudah terpancing untuk share, apalagi kita belum baca isinya. Masih mending kalau beritanya sifatnya netral. Bagaimana jika mengundang fitnah dan huru-hara, contoh:

“Sebarkan!!! Agar Ditangkap! Wanita Ini Mengancam Bunuh Ahok di Publik Secara Terbuka”

 

Sekali lagi, jangan mudah terpancing oleh jebakan-jebakan psikologi.

3. Baca paragraf pertama dan kedua saja.

Jika terpaksa membaca berita sampah tersebut, pastikan ada kutipan atau rujukan kepada sumber berita yang valid. Jika tidak ada, sudah barang tentu si wartawan atau penyunting sedang mengungkapkan pikiran subjektifnya, atau hawa nafsunya.

4. Baca konteks beritanya.

Bila isinya lebih merupakan reaksi terhadap suatu tindakan atau sikap objek berita, segeralah ragukan kebasahan informasinya. Tanpa ujung pangkal, berita tentang dugaan penyalahgunaan dana MUI bermunculan setelah beredar fatwa MUI bahwa perkataan Ahok telah menistakan agama.

Melihat konteksnya, dapat dipastikan kabar itu bukanlah berita, melainkan serangan yang hanya mencari-cari kesalahan. Kalau tidak ketemu, akan terus dipaksakan untuk ada. Maka kasus dua tiga dekade lalu pun digali lagi.

Tak usah heran kalo besok-besok muncul berita yang mengorek-ngorek soal poligami Aa Gym.

5. Waspada penggunaan kata kerja pasif.

“Dianggap menebar kebencian, MUI terancam dibubarkan”

Kalau judul atau kalimat sudah banyak kata pasifnya seperti; ‘dianggap’, ‘diduga’, ‘ditenggarai’, segeralah ragukan. Kata kerja pasif adalah alat wartawan, editor untuk bersembunyi dari tanggung jawab.

“Si A diduga korupsi.” Dia memang tak menuduh, karena toh ‘diduga’. Tapi coba tanyakan siapa yang menduga, jawabanya akan ngelantur. “MUI dianggap menebar kebencian”, dianggap oleh siapa?

6. Perhatikan kredibilitas narasumber.

Pastikan yang mengeluarkan pendapat dan dikutip adalah orang yang layak untuk berbicara tentang isu yang ditanyakan, dalam posisi dan otoritas. Bila berita dugaan korupsi di MUI bersumber dari omongan seorang pengunjung setia diskotek, tukang mesum, jauh dari agama, ragukan!.

Oh ada kutipan dari sebuah LSM atau NGO. Tapi sekarang satu orang pengangguran bisa bikin LSM. Tak perlu kantor. Bikin saja situs gratisan, lalu buat pernyataan yang keras-keras, hasutan, nanti ada yang mengutip.

Nah, kembali pada inti ayat suci al-Kitab al-Quran. Kalau sudah tahu berita hoax, berita sampah, jangan lantas disebarkan walaupun menggunakan status pengantar;

“Fitnah nih…”

“Ngak bener…”

“Hoax abis…”

“Menurut saya…”

Sumber:

______________

1Fasik: Termasuk orang yang tidak diketahui kejujurannya, pelaku tindak kriminal seperti; zina, prostitusi, miras, perampokan, perjudian, ghibah dan ghosip secara individu maupun kelompok layaknya televisi dan koran.

2Sesuatu yang sifatnya buruk seperti; kematian, dipenjara tanpa keadilan dan terusir dari kampung halaman.

Mereka perlu tahu

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *